oleh

Bupati Muna Pastikan 2019 Persoalan Jalan Rusak di Kec Tongkuno Tuntas

PETASULTRA.COM – MUNA. Bupati Muna, LM. Rusman Emba, ST menyatakan dengan tegas jika tahun 2019 persoalan jalan rusak di Kecamatan Tongkuno akan tuntas dikerjakan dengan anggaran sebesar Rp. 7,5 miliar melalui APBD Perubahan Provinsi, sehingga jika masih ada yang polemikan sampai hari ini, maka orang itu terlambat.

Hal itu ungkapkan Bupati Muna, LM. Rusman Emba, ST saat membuka Festival Budaya, pada Jumat (26/7/2019), dilapangan bola Kecamatan Tongkuno yang dihadiri para SKPD, kepala OPD, Kapolsek Tongkuno, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh agama serta masyarakat didua Kecamatan yakni Kecamatan Tongkuno dan Tongkuno Selatan.

Bupati Muna, LM. Rusman Emba, ST saat bawakan sambutan di Festival Budaya. (Foto: Risna/PETASULTRA.COM)

Dalam kesempatan tersebut, Rusman Emba turut menyatakan jika berbicara tentang budaya, terdapat nilai sejarah yang sangat mendalam, yakni “Kabarakatino Witeno Wuna”, merupakan bahasa daerah suku Muna yang bermakna keberkahan atau kesakralan tanah Muna.

Dimana hanya orang yang penuh dengan keiklhasan dan kelurusan hati diyakini dapat diberi suatu keberuntungan dan keberkahan. Bukan kepada orang yang serakah atau dengan gaya hidupnya seperti di zaman Jahiliyah yang menggunakan orasi serta intimidasi untuk memuluskan keinginannya.

Baca Juga  DANDIM KENDARI : MOMENTUM HARI LAHIR PANCASILA JADIKAN SEMANGAT JUANG BEKERJA

“Kabarakatino witeno wuna itu hanya ada kalau kita iklhas dan tulus karena Allah SWT, dimana hidup kita hanya untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara khususnya daerah yang kita cintai bersama,” terang Rusman yang disambut gemuruh tepuk tangan masyarakat.Menurutnya kebesaran suatu bangsa dapat dilihat dari karakter pemimpinnya yang komunikatif, santun serta menghargai orang lain, maka itu yang disebut peradaban sesungguhnya.

Jadi dalam hal menjalankan perintah Allah SWT, lanjut Rusman, maka sikap dan sifat harus sesuai dengan ketentuan syariat islam, diantaranya memiliki sifat toleransi, persuasif, demokratis dan selalu memberikan ruang kepada orang lain.

“Saya mengapresiasi kegiatan hari ini karena bicara mengenai Peradaban dan Budaya kalau bukan kita siapa lagi yang akan lakukan itu, sehingga tentu kegiatan ini menjadi embrio awal untuk kegiatan selanjutnya,” ungkapnya.
(Risna/*)

Komentar

News Feed