oleh

Kepala BPIP Sebut Perjuangan Mbak Moedjair Bentuk Mutiara Pancasila

PETASULTRA.COM – BLITAR. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI) Prof. Dr. Hariono, M.Pd yang mengunjungi Kampung Mujair, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur mengapresiasi kisah narasi inovasi yang melegenda yang dilakukan Mbah Moedjair atau dikenal Pak Mujair.

Hariono mengatakan kisah Mujair ini merupakan contoh mutiara Pancasila yang terkait dengan penemuan atau inovasi yang kontekstual. Lantaran, Mujair yang bernama asli Iwan Dalauk itu dikenal sebagai penemu ikan Mujair yang kerap di konsumsi masyarakat.

[artikel number=5 tag=”perusahaan-2″]

Dijelaskan Prof Hariono saat berada di Blitar “Di kampung itu ada makam Mbah Moedjair, yang disebut orang penemu ikan Mujair yang sekarang sering kita makan. Melalui inspirasi dan keuletan Mbah Moedjair yang lahir di tahun 1890 hingga tahun 1957 berhasil mengubah ikan kakap hitam yang biasa hidup di laut menjadi ikan Mujair yang biasa hidup di air tawar,” ucapnya Minggu (03/03/2019).

Hariono katakan juga bahwa perjuangan almarhum tidak instan dan sederhana, melalui percobaan sekitar 11 kali beliau baru bisa mengembangkan ternak ikan Mujair. Setiap kali percobaan harus berjalan sekitar 35 kilometer sampai di pantai Serang. Dan jalan saat itu masih berupa semak dan hutan.

Kepala BPIP ziarah ke makam mbah Moedjair

Dipaparkan Prof Hariono “Almarhum banyak mendapat penghargaan dan apresiasi mulai dari pemerintah kolonial Belanda hingga pemerintah Indonesia serta dunia Internasional,” nah, berkat keuletan dan dedikasi itu, lanjut Hariono ikan Mujair berhasil dikembangbiakkan.

“Ini, sebuah prestasi yang perlu diapresiasi. Berkat penemuan almarhum narasi inovasi yang melegenda dapat kita gali dan banggakan. Leluhur kita ternyata juga merupakan inovator. Kita adalah keturunan nenek moyang penemu yang hebat,” cetus dia.

Kisah perjalanan Mbah Moedjair, kata dia merupakan mutiara Pancasila yang dapat menjadi kebanggaan bersama. Di situlah nilai – nilai Pancasila, bukan sekedar bunyi – bunyian, melainkan suatu inspirasi dan inovasi yang konstruktif bagi pencapaian kedaulatan pangan.

“Hebatnya generasi muda kampung Mujair kini terus berusaha mengembangkan kreasi dan inovasi. Salah satunya berhasil mengembangkan bibit tanaman dan industri rumah tangga yang membuat masyarakatnya sejahtera. Beberapa industri rumah tangga yang diolah dari pertanian lokal diekspor ke Malaysia dan Hongkong,” tandas dia. (Red/*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *